PEMANFAATAN MEDIA DALAM PEMBELAJARAN
PEMANFAATAN
MEDIA DALAM PEMBELAJARAN
Oleh:
Paiman Josua Lumban
Gaol (7172142018)
Ivana Cinthya Panjaitan
(7173142013)
Fikri Akbar Trianto
(7172142015)
Nofita Uli Simare-mare(7173342034)
(Program
Studi Pendidikan Akuntansi, Fakultas Ekonomi,Universitas Negeri Medan)
Abstract:
Tulisan
ini mendiskusikan mengenai media pembelajaran sabagai salah satu komponen
pembelajaran yang dapat menentukan keberhasilan sebuah pembelajaran.Tujuan dari tulisan ini adalah meninjau proses
pembelajaran, masih banyak pembelajar yang kurang kreatif bahkan kurang
memahami dalam pemilihan model
pembelajaran maupun pemanfaatan media pembelajaran yang sesuai dengan tujuan umum dan tujuan
khusus pembelajaran Beberapa hal yang dibahas dalam tulisan ini meliputi cara
memilih, kriteria pemilihan, prinsip-prinsip, serta manfaat media pembelajaran.
Keywords: kegiatan
belajar mengajar, teknologi pembelajaran, media pembelajaran
Abstract:
This
article discuss about media in learning one of the components of learning that
can determine the success of a learning. The purpose of this paper is to review
the process of learning, it is still much less creative learners even less understanding
in the selection of models of learning as well as the utilization of
appropriate learning with media general purpose and special purpose learning a
few things that are discussed in this paper covers how to select, selection
criteria, principles, and benefits of learning media.
Keywords: teaching and learning activities,
instructional technology, instructional media
A.
Pendahuluan
1.
Latar Belakang
Dalam
proses belajar mengajar, lima komponen yang sangat penting adalah tujuan,
materi, metode, media, dan evaluasi pembelajaran. Kelima aspek ini saling
mempengaruhi. Pemilihan salah satu metode mengajar tertentu akan berdampak pada
jenis media pembelajaran yang sesuai, dengan tanpa melupakan tiga aspek penting
lainnya yaitu tujuan, materi, dan evaluasi pembelajaran. Dalam hal ini, dapat
dikatakan bahwa salah satu fungsi utama media pembelajaran adalah sebagai alat
bantu mengajar yang turut mempengaruhi, motivasi, kondisi, dan lingkungan
belajar (Hamalik, Oemar. 1990). Pemakaian media pembelajaran dalam proses
belajar mengajar dapat membangkitkan minat dan keinginan yang baru,
membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh
psikologis terhadap pebelajar. Penggunaan media pembelajaran pada tahap
orientasi pengajaran akan sangat membantu keefektifan proses pembelajaran dan
penyampaian pesan dan isi pelajaran pada saat itu (Wiratmojo,P dan
Sasonohardjo, 2002). Sebagai salah satu komponen pembelajaran, media tidak bisa
luput dari pembahasan sistem pembelajaran secara menyeluruh. Pemanfaatan media
seharusnya merupakan bagian yang harus mendapat perhatian pembelajar dalam
setiap kegiatan pembelajaran. Namun kenyataanya bagian inilah yang masih sering
terabaikan dengan berbagai alasan. Alasan yang sering muncul antara lain:
terbatasnya waktu untuk membuat persiapan mengajar, sulitnya mencari media yang
tepat, tidak tersedianya biaya, dll. Hal ini sebenarnya tidak perlu terjadi
jika setiap pembelajar telah membekali diri dengan pengetahuan dan keterampilan
dalam hal media pembelajaran. Sesungguhnya betapa banyakjenis media yang bisa
dipilih, dikembangkan dan dimanfaatkan sesuai dengan kondisi, waktu, biaya
maupun tujuan pembelajaran yang dikehendaki. Setiap jenis media memiliki
karakteristik tertentu yang perlu kita pahami, sehingga kita dapat memilih
media yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi yang ada di lapangan
(Wiratmojo,P dan Sasonohardjo, 2002).
2.
Identifikasi Masalah
Peranan pembelajar di
dalam proses belajar mengajar tidak dapat dipisahkan dari tupoksi yang dimiliki
pembelajar, sehingga diperlukan pengetahuan yang sangat mendalam agar setiap
pembelajar memahami apa saja yang harus dilakukan. Berdasarkan latar belakang
tersebut maka identifikasi masalahnya
antara lain, bahwa dalam proses pembelajaran, masih banyak pembelajar
yang kurang kreatif bahkan kurang memahami
dalam pemilihan model pembelajaran maupun pemanfaatan media
pembelajaran yang sesuai dengan tujuan
umum dan tujuan khusus pembelajaran.
3.
Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada penulisan ini adalah:
1.
Bagaimana cara memilih media
pembelajaran?
2.
Apa sajakah kriteria pemilihan media
pembelajaran?
3.
Apa sajakah prinsip-prinsip pemilihan
media pembelajaran? 4. Apa sajakah manfaat media pembelajaran?.
4.
Tujuan Penulisan
Penulisan ini bertujuan
untuk:
1.
Mengetahui cara memilih media
pembelajaran.
2.
Mengetahui kriteria pemilihan media
pembelajaran.
3.
Mengetahui prinsip-prinsip pemilihan
media pembelajaran.
4.
Mengetahui manfaat media pembelajaran.
B.
KAJIAN TEORI
1.
Hakekat Belajar dan Sumber Belajar
Istilah
belajar sudah terlalu akrab dengan kehidupan kita sehari-hari. Di masyarakat,
kita sering menjumpai penggunaan istilah belajar seperti: belajar membaca,
belajar bernyanyi, belajar berbicara, belajar matematika. Masih banyak lagi
penggunaan istilah, bahkan termasuk kegiatan belajar yang sifatnya lebih umum
dan tak mudah diamati, seperti: belajar hidup mandiri, belajar menghargai
waktu, belajar berumah tangga, belajar bermasyarakat, belajar mengendalikan
diri, dan sejenisnya.
Dan
umumnya kalangan awam pun sudah mengetahui makna berbagai istilah belajar
tersebut. Namun sebagai seorang pembelajar, kita tidak cukup hanya memahami
makna belajar sebagaimanamasyarakat awam. Mengapa? Karena memang tugas utama
kita sebagai pembelajar adalah membuat orang melakukan belajar. Jadi, apa
sebenarnya belajar itu ? Belajar, merupakan kegiatan yang terjadi pada semua
orang tanpa mengenal batas usia, dan berlangsung seumur hidup.
Belajar
merupakan usaha yang dilakukan seseorang melalui interaksi dengan lingkungannya
untuk merubah perilakunya. Dengan demikian, hasil dari kegiatan belajar adalah
berupa perubahan perilaku yang relatif permanen pada diri orang yang belajar.
Tentu saja, perubahan yang diharapkan adalah perubahan ke arah yang positif.
Jadi,
sebagai pertanda bahwa seseorang telah melakukan proses belajar adalah
terjadinya perubahan perilaku pada diri orang tersebut. Perubahan perilaku
tersebut, misalnya, dapat berupa: dari anak pembangkang menjadi penurut, dari
pembohong menjadi jujur, dari kurang taqwa menjadi lebih taqwa, dari tidak tahu
sama sekali menjadi samar samar, dari kurang mengerti menjadi mengerti, dari
tidak bisa menjadi bisa, dll. Jadi,
perubahan hasil kegiatan belajar dapat berupa aspek afektif, kognitif, maupun psikomotor (Hamalik, Oemar.
1990).
Kegiatan
belajar, sering dikaitkan dengan kegiatan mengajar. Begitu eratnya kaitan itu,
sehingga keduanya sulit dipisahkan. Dalam percapakan sehari hari kita secara
spontan sering mengucapkan istilah kegiatan "belajar mengajar menjadi satu
kesatuan. Bahwa kedua kegiatan tersebut berkaitan erat adalah benar. Namun,
benarkah bahwa agar terjadi kegiatan belajar harus selalu ada orang yang
mengajar? Benar pulakah bahwa setiap kegiatan mengajar pasti selalu
menghasilkan kegiatan belajar ? Jawabannya : belum tentu. Artinya, dalam setiap
kegiatan belajar tidak harus selalu ada orang yang mengajar. Kegiatan belajar
bisa saja terjadi walaupun tidak ada kegiatan mengajar. Begitu pula sebaliknya,
kegiatan mengajar tidak selalu dapat menghasilkan kegiatan belajar.
Ketika
pembelajar menjelaskan pelajaran di depan kelas misalnya, memang terjadi
kegiatan mengajar. Tetapi, dalam kegiatan itu tak ada jaminan telah terjadi
kegiatan belajar pada setiap pebelajar yang di ajar. Kegiatan mengajar
dikatakan berhasil hanya apabila dapat mengakibatkan/menghasilkan kegiatan
belajar pada diri pebelajar. Jadi, sebenarnya hakekat pembelajar mengajar
adalah usaha pembelajar untuk membuat pebelajar belajar. Dengan kata lain,
mengajar merupakan upaya menciptakan kondisi agar terjadi kegiatan belajar.
Istilah pembelajaran lebih menggambarkan usaha pembelajar untuk membuat belajar
para pebelajarnya. Kegiatan pembelajaran tidak akan berarti jika tidak menghasilkan
kegiatan belajar pada para pebelajarnya. Kegiatan belajar hanya bisa berhasil
jika si pebelajar secara aktif mengalami sendiri proses belajar. Seorang
pembelajar tidak dapat "mewakili" belajar untuk pebelajarnya. Seorang
pebelajar belum dapat dikatakan telah belajar hanya karena ia sedang berada
dalam satu ruangan dengan pembelajar yang sedang mengajar.
Pada
hakekatnya, alam semesta ini merupakan sumber belajar bagi manusia sepanjang
massa. Jika Kita sependapat dengan asumsi ini, maka pengertian sumber belajar
merupakan konsep yang sangat luas meliputi segala yang ada di jagad raya ini.
Menurut
Asosiasi Teknologi Komunikasi Pendidikan (AECT), sumber belajar adalah semua
sumber (baik berupa data, orang atau benda) yang dapat digunakan untuk memberi
fasilitas (kemudahan) belajar bagi pebelajar. Sumber belajar itu meliputi
pesan, orang, bahan, peralatan, teknik dan lingkungan/latar.
Pesan,
adalah ajaran atau informasi yang akan disampaikan oleh komponen belajar lain
yang dapat berupa ide, fakta, ajaran, nilai dan data. Dalam sistem
persekolahan, maka pesan ini berupa seluruh mata pelajaran yang disampaikan
kepada pebelajar.
Orang
adalah manusia yang berperan sebagai pencari, penyimpan, pengolah dan penyaji
pesan. Contohnya: pembelajar, dosen, pustakawan, petugas laboratorium,
instruktur, widyaiswara, pelatih olah raga, tenaga ahli dan masih banyak lagi,
bahkan termasuk pebelajar itu sendiri.
Bahan
merupakan perangkat lunak (software) yang mengandung pesan pesan belajar, yang
biasanya disajikan menggunakan peralatan tertentu. Contohnya: bahan ajar,
transparansi (OHT), kaset program audio, kaset program video, pro¬gram slide,
film.
Alat,
adalah perangkat keras (hardware) yang digunakan untuk menyajikan pesan yang
tersimpan dalam bahan. Contohnya: OHP, Tape recorder, Video player, proyektor
slide, proyektor film, komputer.
Teknik,
yaitu prosedur atau langkah langkah tertentu yang disiapkan dalam menggunakan
bahan, alat, lingkungan dan orang untuk menyampaikan pesan. MisaInya:
demonstrasi, diskusi, praktikum, pembelajaran mandiri, sistem pendidikan
terbuka/jarak jauh, tutorial tatap muka, dll.
Sedangkan
latar/ lingkungan adalah situasi di sekitar terjadinya proses belajar mengajar
dimana pebelajar menerima pesan. Lingkungan dibedakan menjadi dua macam, yaitu
lingkungan fisik dan lingkungan non fisik. Contoh lingkungan fisik: gedung
sekolah, perpustakaan, laboratorium, aula, pasar, kebun, bengkel, pabrik, dll.
Contoh lingkungan non fisik : tata ruang belajar, ventilasi udara, cuaca, kebisingan/ketenangan lingkungan
belajar, dll. Ditinjau dari tipe atau
asal usulnya, sumber belajar dapat dibedakan menjadi dua :
1).
Sumber belajar yang dirancang (learning resourced by design) yaitu sumber
belajar yang memang sengaja dibuat untuk tujuan pembelajaran. Sumber belajar
semacam ini sering disebut bahan pembelajaran. Contohnya adalah: buku
pelajaran, bahan ajar, program audio, program slide suara, transparansi (OHT)
2).
Sumber belajar yang sudah tersedia dan tinggal dimanfaatkan (learning resourced
by utilization), yaitu sumber belajar yang tidak secara khusus dirancang untuk
keperluan pembelajaran, namun dapat ditemukan, dipilih dan dimanfaatkan untuk
keperluan pembelajaran. Contohnya: pejabat pemerintah, tenaga ahli, pemuka
agama, olahragawan, kebun binatang, waduk, museum, film, sawah, terminal, surat
kabar, siaran televisi, dan masih banyak lagi yang lain. Jadi, begitu banyaknya
sumber belajar yang ada di seputar kita yang semua itu dapat kita manfaatkan
untuk keperluan belajar. Sekali lagi, pembelajar hanya merupakan salah satu
dari sekian banyak sumber belajar yang ada. Bahkan pembelajar hanya salah satu
sumber belajar yang berupaorang, selain petugas perpustakaan, petugas
laboratorium, tokoh tokoh masyarakat, tenaga ahli/terampil, tokoh agama, dll.
Oleh
karena setiap pebelajar merupakan individu yang unik (berbeda satu sama lain),
maka sedapat mungkin pembelajar memberikan perlakuan yang sesuai dengan
karakteristik masing masing pebelajar. Dengan begitu maka diharapkan kegiatan
mengajar benar benar membuahkan kegiatan belajar pada diri setiap pebelajar.
Hal ini dapat dilakukan kalau pembelajar berusaha menggunakan berbagai sumber
belajar secara bervariasi dan memberikan kesempatan sebanyak mungkin kepada
pebelajar untuk berinteraksi dengan sumber sumber belajar yang ada (Hamalik,
Oemar. 1990).
Hal
yang perlu perhatian adalah, agar bisa terjadi kegiatan belajar pada pebelajar,
maka pebelajar harus secara aktif melakukan interaksi dengan berbagai sumber
belajar. Perubahan perilaku sebagai hasil belajar hanya mungkin terjadi jika
ada interaksi antara pebelajar dengan sumber sumber belajar. Dan inilah yang
seharusnya diusahakan oleh setiap pembelajar dalam kegiatan pembelajaran.
2.
Media Pembelajaran
Peran
pembelajar adalah menyediakan, menunjukkan, membimbing dan memotivasi pebelajar
agar mereka dapat berinteraksi dengan berbagai sumber belajar yang ada. Bukan
hanya sumber belajar yang berupa orang , melainkan juga sumber-sumber belajar
yang lain. Bukan hanya sumber belajar yang sengaja dirancang untuk keperluan
belajar, melainkan juga sumber belajar yang telah tersedia. Semua sumber
belajar itu dapat kita temukan, kita pilih dan kita manfaatkan sebagai sumber
belajar bagi pebelajar kita.
Wujud
interaksi antara pebelajar dengan sumber belajar dapat bermacam-macam. Cara
belajar dengan mendengarkan ceramah dari pembelajar memang merupakan salah satu
wujud interaksi tersebut. Namun belajar hanya dengan mendengarkan saja, patut
diragukan efektifitasnya. Belajar hanya akan efektif jika si pebelajar
diberikan banyak kesempatan untuk melakukan sesuatu, melalui multi-metode dan
multi-media. Melalui berbagai metode dan media pembelajaran, pebelajar akan
dapat banyak berinteraksi secara aktif dengan memanfaatkan segala potensi yang
dimiliki pebelajar. Barang kali perlu direnungkan kembali ungkapan populer yang
mengatakan : Saya mendengar saya lupa, Saya melihat saya ingat, Saya berbuat
maka saya bisa.
Kalau
kita amati lebih cermat lagi, pada mulanya media pembelajaran hanyalah dianggap
sebagai alat untuk membantu pembelajar dalam kegiatan mengajar (teaching aids).
Alat bantu mengajar berikutnya yang digunakan adalah alat bantu visual seperti
gambar, model, grafis atau benda nyata lain. Alat-alat bantu itu dimaksudkan
untuk memberikan pengalaman lebih konkret, memotivasi serta mempertinggi daya
serap dan daya ingat pebelajar dalam belajar (David,Bern,1991).
a. Pengertian Media Pembelajaran
Istilah
media berasal dari bahasa Latin yang merupakan bentuk jamak dari
"medium" yang secara harafiah berarti perantara atau pengantar. Makna
umumnya adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan informasi dari sumber
informasi kepada penerima informasi. Istilah media ini sangat populer dalam
bidang komunikasi. Proses belajar mengajar pada dasamya juga merupakan proses
komunikasi, sehingga media yang digunakan dalam pembelajaran disebut media
pembelajaran.
Banyak
ahli yang memberikan batasan tentang media pembelajaran. AECT misalnya,
mengatakan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang digunakan orang
untuk menyalurkan pesan. Gagne mengartikan media sebagai jenis komponen dalam
lingkungan pebelajar yang dapat merangsang mereka untuk belajar. Senada dengan
itu, Briggs mengartikan media sebagai alat untuk memberikan rangsangan bagi
pebelajar agar terjadi proses belajar. Bagaimana hubungan media pembelajaran
dengan media pendidikan ?
Media
pendidikan , tentu saja media yang digunakan dalam proses dan untuk mencapai
tujuan pendidikan. Pada hakekatnya media pendidikan juga merupakan media
komunikasi, karena proses pendidikan juga merupakan proses komunikasi. Apabila
kita bandingkan dengan media pembelajaran, maka media pendidikan sifatnya lebih
umum, sebagaimana pengertian pendidikan itu sendiri. Sedangkan media
pembelajaran sifatnya lebih khusus, maksudnya media pendidikan yang secara
khusus digunakan untuk mencapai tujuan belajar tertentu yang telah dirumuskan
secara khusus. Tidak semua media pendidikan adalah media pembelajaran, tetapi
setiap media pembelajaran pasti termasuk media pendidikan.
Apa
pula bedanya dengan alat peraga, alat bantu mengajar (teaching aids), alat
bantu audio visual (AVA), atau alat bantu belajar yang selama ini sering juga
kita dengar? Pada dasamya, semua istilah itu dapat kita masukkan dalam konsep
media, karena konsep media merupakan perkembangan lebih lanjut dari
konsep-konsep tersebut.
Alat
peraga adalah alat (benda) yang digunakan untuk memperagakan fakta, konsep,
prinsip atau prosedur tertentu agar tampak lebih nyata/ konkrit. Alat bantu
adalah alat (benda) yang digunakan oleh pembelajar untuk mempermudah tugas
dalam mengajar. Audio-Visual Aids (AVA) mempunyai pengertian dan tujuan yang
sama hanya saja penekanannya pada peralatan audio dan visual. Sedangkan alat
bantu belajar penekanannya pada pihak yang belajar (pebelajar). Semua istilah
tersebut, dapat kita rangkum dalam satu istilah umum yaitu media pembelajaran
(Wiratmojo,P dan Sasonohardjo, 2002).
Satu
konsep lain yang sangat berkaitan dengan media pembelajaran adalah istilah
sumber belajar. Bagaimana kaitan antara media belajar dengan sumber belajar?
Sebagaimana telah dibahas di muka, sumber belajar memiliki cakupan yang lebih
luas daripada media belajar. Sumber belajar bisa berupa pesan, orang, bahan,
alat, teknik dan latar/lingkungan. Apa yang dinamakan media sebenarnya adalah
bahan dan alat belajar tersebut. Bahan sering disebut perangkat lunak software,
sedangkan alat juga disebut sebagi perangkat keras hardware. Transparansi,
program kaset audio dan program video adalah beberapa contoh bahan belajar.
Bahan belajar tersebut hanya bisa disajikan jika ada alat, misalnya berupa OHP,
Radio kaset dan Video player. Jadi salah satu atau kombinasi perangkat lunak
(bahan) dan perangkat keras (alat) bersama-sama dinamakan media. Dengan
demikian, jelaslah bahwa media pembelajaran merupakan bagian dari sumber
belajar.
Dengan
demikian, kalau saat ini kita mendengar kata media, hendaklah kata tersebut diartikan
dalarn pengertiannya yang terakhir, yaitu meliputi alat bantu pembelajar dalam
mengajar serta sarana pembawa pesan dari sumber belajar ke penerima pesan
belajar ( pebelajar ). Sebagai penyaji dan penyalur pesan, media belajar dalam
hal-hal tertentu, bisa mewakili pembelajar menyajikan informasi belajar kepada
pebelajar (Joyce Bruce. Et al. 2000).
3. Pembahasan
Dalam
pembahasan ini kita akan membicarakan tentang cara pemilihan media, kriteria
pemilihan media, prinsip pemanfaatan media, dan manfaat pemilihan media.
a. Cara Pemilihan Media
Dalam
kegiatan pembelajaran kita harus menentukan media yang akan digunakan, memilih media yang terbaik untuk tujuan
pembelajaran bukanlah pekerjaan yang mudah. Pemilihan itu rumit dan sulit,
karena harus mempertimbangkan berbagai faktor.
1.
Model pemilihan media
Anderson
(1976) mengemukakan adanya dua pendekatan/model dalam proses pemilihan media
pembelajaran, yaitu: model pemilihan tertutup dan model pemilihan terbuka.
Pemilihan tertutup terjadi apabila alternatif media telah ditentukan "dari
atas" (misalnya oleh Dinas Pendidikan), sehingga mau tidak mau jenis media
itulah yang harus dipakai. Kalau toh kita memilih, maka yang kita lakukan lebih
banyak ke arah pemilihan topik/pokok bahasan mana yang cocok untuk dimediakan
pada jenis tertentu. Misalnya saja, telah ditetapkan bahwa media yang digunakan
adalah media audio. Dalam situasi demikian, bukanlah mempertanyakan mengapa
media audio yang digunakan,
Model
pemilihan terbuka merupakan kebalikan dari pemilihan tertutup. Artinya, kita
masih bebas memilih jenis media apa saja yang sesuai dengan kebutuhan kita.
Alternatif media masih terbuka luas. Proses pemilihan terbuka lebih luwes
sifatnya karena benar-benar kita sesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi yang
ada. Namun proses pemilihan terbuka ini menuntut kemampuan dan keterampilan
pembelajar untuk melakukan proses pemilihan. Seorang pembelajar kadang bisa
melakukan pemilihan media dengan mengkombinasikan antara pemilihan terbuka
dengan pemilihan tertutup.
2.
Alasan pemilihan media
Media
pada hakekatnya merupakan salah satu komponen sistem pembelajaran. Sebagai
komponen, media hendaknya merupakan bagian integral dan harus sesuai dengan
proses pembelajaran secara menyeluruh. Akhir dari pemilihan media adalah
penggunaaan media tersebut dalam kegiatan pembelajaran, sehingga memungkinkan
pebelajar dapat berinteraksi dengan media yang kita pilih.
Jika
kita telah menentukan alternatif media yang akan kita gunakan dalam
pembelajaran, selanjutnya sudah tersediakah media tersebut di sekolah atau di
pasaran? Jika sudah tersedia, maka kita tinggal meminjam atau membelinya saja.
Itupun jika media yang ada memang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah
kita rencanakan, dan terjangkau harganya. Jika media yang kita butuhkan temyata
belum tersedia, mau tak mau kita harus membuat sendiri program media sesuai
keperluan tersebut. Pemilihan media itu
perlu kita lakukan agar dapat menentukan
media yang terbaik, tepat dan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi sasaran
didik. Untuk itu, pemilihan jenis media harus dilakukan dengan prosedur yang
benar, karena begitu banyak jenis media dengan berbagai kelebihan dan kelemahan
masing-masing.
b. Kriteria Pemilihan Media
Memilih
media hendaknya tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan didasarkan atas
kriteria tertentu. Kesalahan pada saat pemilihan, baik pemilihan jenis media
maupun pemilihan topik yang dimediakan, akan membawa akibat panjang yang tidak
kita inginkan di kemudian hari. Banyak pertanyaan yang harus kita jawab sebelum
kita menentukan pilihan media tertentu. Secara umum, kriteria yang harus
dipertimbangkan dalam pemilihan media pembelajaran diuraikan sebagai berikut.
1.
Tujuan Penggunaan
Apa
tujuan pembelajaran (standar kompetensi dan kompetensi dasar) yang ingin
dicapai? Apakah tujuan itu masuk ranah kognitif, afektif, psikomotor, atau
kombinasinya? Jenis rangsangan indera apa yang ditekankan: apakah penglihatan,
pendengaran, atau kombinasinya? Jika visual, apakah perlu gerakan atau cukup
visual diam? Jawaban atas pertanyaan itu akan mengarahkan kita pada jenis media
tertentu, apakah media realia, audio, visual diam, visual gerak, audio visual
gerak dan seterusnya.
2.
Sasaran pengguna media
Siapakah
sasaran didik yang akan menggunakan media? bagaimana karakteristik mereka,
berapa jumlahnya, bagaimana latar belakang sosialnya, bagaimana motivasi dan
minat belajarnya? dan seterusnya. Apabila kita mengabaikan kriteria ini, maka
media yang kita pilih atau kita buat tentu tak akan banyak gunanya. Mengapa?
Karena pada akhirnya sasaran inilah yang akan mengambil manfaat dari media
pilihan kita itu. Oleh karena itu, media harus sesuai benar dengan kondisi
mereka
3.
Karakteristik media
Harus
diketahui karakteristik media tersebut? Apa kelebihan dan kelemahannya,
sesuaikah media yang akan kita pilih itu dengan tujuan yang akan dicapai? Kita
tidak akan dapat memilih media dengan baik jika kita tidak mengenal dengan baik
karakteristik masing-masing media. Karena kegiatan memilih pada dasamya adalah
kegiatan membandingkan satu sama lain, mana yang lebih baik dan lebih sesuai
dibanding yang lain. Oleh karena itu, sebelum menentukan jenis media tertentu,
pahami dengan baik bagaimana karaktristik media tersebut.
4.
Waktu
waktu
di sini adalah berapa lama waktu yang diperlukan untuk mengadakan atau membuat
media yang akan kita pilih, serta berapa lama waktu yang tersedia/yang kita
miliki, cukupkah? Pertanyaan lainadalah, berapa lama waktu yang diperlukan
untuk menyajikan media tersebut dan berapa lama alokasi waktu yang tersedia
dalam proses pembelajaran? Tak ada gunanya kita memilih media yang baik, tetapi
kita tidak cukup waktu untuk mengadakannya. Jangan sampai pula terjadi, media
yang telah kita buat dengan menyita banyak waktu, tetapi pada saat digunakan
dalam pembelajaran temyata kita kekurangan waktu.
5.
Biaya
Penggunaan
media pada dasarnya dimaksudkan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas
pembelajaran. Apalah artinya kita menggunakan media, jika akibatnya justru
pemborosan. Oleh sebab itu, faktor biaya menjadi kriteria yang harus kita
pertimbangkan. Berapa biaya yang kita perlukan untuk membuat, membeli atau
menyewa media tersebut? Bisakah kita mengusahakan biaya tersebut/apakah
besarnya biaya seimbang dengan tujuan belajar yang hendak dicapai? Tidak
mungkinkah tujuan belajar itu tetap dapat dicapai tanpa menggunakan media itu,
adakah alternatif media lain yang lebih murah namun tetap dapat mencapai tujuan
belajar? Media yang mahal belum tentu lebih efektif untuk mencapai tujuan belajar
dibandingkan media sederhana dan murah.
6.
Ketersediaan
Media
yang kita butuhkan itu ada di sekitar kita, di sekolah atau di pasaran? Kalau
kita harus membuatnya sendiri, adakah kemampuan, waktu tenaga dan sarana untuk
membuatnya? Kalau semua itu ada, pertanyaan berikutnya adalah tersediakah
sarana yang diperlukan untuk menyajikannya di kelas? Misalnya, untuk
menjelaskan tentang proses terjadinya gerhana matahari memang lebih efektif
disajikan melalui media video. Namun karena di sekolah tidak ada video player,
maka sudah cukup bila digunakan alat peraga gerhana matahari (Sudjana, Nana.
1989).
c. Prinsip Pemanfaatan Media
Setelah
kita menentukan pilihan media yang akan kita gunakan, maka pada akhimya kita
dituntut untuk dapat memanfaatkannya dalam proses pembelajaran. Media yang
baik, belum tentu menjamin keberhasilan belajar pebelajar jika kita tidak dapat
menggunakannya dengan baik. Untuk itu, media yang telah kita pilih dengan tepat
harus dapat kita manfaatkan dengan sebaik mungkin sesuai prinsip-prinsip
pemanfaatan media. Ada beberapa prinsip umum yang perlu kita perhatikan dalam
pemanfaatan media pembelajaran, yaitu:
1.
Setiap jenis media, memiliki kelebihan
dan kelemahan
Tidak
ada satu jenis media yang cocok untuk semua proses pembelajaran dan dapat
mencapai semua tujuan belajar. lbaratnya, tak ada satu jenis obat yang manjur
untuk semua jenis penyakit.
2.
Penggunaan beberapa macam media secara
bervariasi memang diperlukan
Namun
harap diingat, bahwa penggunaan media yang terlalu banyak sekaligus dalam suatu
kegiatan pembelajaran, justru akan membingungkan pebelajar dan tidak akan
memperjelas pelajaran. Oleh karena itu gunakan media seperlunya, jangan
berlebihan.
3.
Penggunaan media harus dapat
memperlakukan pebelajar secara aktif.
Lebih
baik menggunakan media yang sederhana yang dapat mengaktifkan seluruh pebelajar
daripada media canggih namun justru membuat pebelajar kita terheran-heran
pasif.
Sebelum
media digunakan harus direncanakan secara matang dalam penyusunan rencana
pembelajaran. Tentukan bagian materi mana saja yang akan kita sajikan dengan
bantuan media. Rencanakan bagaimana strategi dan teknik penggunaannya. Hindari
penggunaan media yang hanya dimaksudkan sebagai selingan atau sekedar pengisi
waktu kosong saja. Jika pebelajar sadar bahwa media yang digunakan hanya untuk
mengisi waktu kosong, maka kesan ini akan selalu muncul setiap kali pembelajar
menggunakan media. Penggunaaan media yang sembarangan, asal-asalan, atau
"daripada tidak dipakai", akan membawa akibat negatif yang lebih
buruk. Harus senantiasa dilakukan persiapan yang cukup sebelum penggunaaan
media. Kurangnya persiapan bukan saja membuat proses pembelajaran tidak efektif
dan efisien, tetapi justru mengganggu kelancaran proses pembelajaran. Hal ini
terutama perlu diperhatikan ketika kita akan menggunakan media elektronik
(Sudjana, Nana. 1989).
d. Manfaat Media dalam Pembelajaran
Secara
umum, manfaat media dalam proses pembelajaran adalah memperlancar interaksi
antara pembelajar dengan pebelajar sehingga kegiatan pembelajaran akan lebih
efektif dan efisien. Tetapi secara lebih khusus ada beberapa manfaat media yang
lebih rinci. Kemp dan Dayton (1985) misalnya, mengidentifikasi beberapa manfaat
media dalam pembelajaran, yaitu:
1.
Penyampaian materi pelajaran dapat
diseragamkan
Setiap
pembelajar mungkin mempunyai penafsiran yang berbeda-beda terhadap suatu konsep
materi pelajaran tertentu. Dengan bantuan media, penafsiran yang beragam
tersebut dapat dihindari sehingga dapat disampaikan kepada pebelajar secara
seragam. Setiap pebelajar yang melihat atau mendengar uraian suatu materi
pelajaran melalui media yang sama, akan menerima informasi yang persis sama
seperti yang diterima oleh pebelajar-pebelajar lain. Dengan demikian, media
juga dapat mengurangi terjadinya kesenjangan informasi diantara pebelajar di
manapun berada.
2.
Proses pembelajaran menjadi lebih jelas
dan menarik
Dengan
berbagai potensi yang dimilikinya, media dapat menampilkan informasi
melalui suara, gambar, gerakan dan warna, baik secara alami maupun manipulasi.
Materi pelajaran yang dikemas melalui program media, akan lebih jelas, lengkap,
serta menarik minat pebelajar. Dengan media, materi sajian bisa membangkitkan
rasa keingintahuan pebelajar dan merangsang pebelajar bereaksi baik secara
fisik maupun emosional. Singkatnya, media pembelajaran dapat membantu
pembelajar untuk menciptakan suasana belajar menjadi lebih hidup, tidak
monoton, dan tidak membosankan.
3.
Proses pembelajaran menjadi lebih
interaktif
Jika
dipilih dan dirancang secara baik, media dapat membantu pembelajar dan
pebelajar melakukan komunikasi dua arah secara aktif selama proses
pembelajaran. Tanpa media, seorang pembelajar mungkin akan cenderung berbicara
satu arah kepada pebelajar. Namun dengan media, pembelajar dapat mengatur kelas
sehingga bukan hanya pembelajar sendiri yang aktif tetapi juga pebelajarnya.
4.
Efisiensi dalam waktu dan tenaga
Keluhan
yang selama ini sering kita dengar dari pembelajar adalah, selalu kekurangan
waktu untuk mencapai target kurikulum. Sering terjadi pembelajar menghabiskan
banyak waktu untukmenjelaskan suatu materi pelajaran. Hal ini sebenarnya tidak
harus terjadi jika pembelajar dapat memanfaatkan media secara maksimal.
Misalnya, tanpa media seorang pembelajar tentu saja akan menghabiskan banyak
waktu untuk mejelaskan sistem peredaran darah manusia atau proses terjadinya
gerhana matahari. Padahal dengan bantuan media visual, topik ini dengan cepat
dan mudah dijelaskan kepada anak. Biarkanlah media menyajikan materi pelajaran
yang memang sulit untuk disajikan oleh pembelajar secara verbal. Dengan media,
tujuan belajar akan lebih mudah tercapai secara maksimal dengan waktu dan
tenaga seminimal mungkin. Dengan media, pembelajar tidak harus menjelaskan
materi pelajaran secara berulang-ulang, sebab hanya dengan sekali sajian
menggunakan media, pebelajar akan lebih mudah memahami pelajaran.
5.
Meningkatkan kualitas hasil belajar
pebelajar
Penggunaan
media bukan hanya membuat proses pembelajaran lebih efisien, tetapi juga
membantu pebelajar menyerap materi pelajaran lebih mendalam dan utuh. Bila
hanya dengan mendengarkan informasi verbal dari pembelajar saja, pebelajar
mungkin kurang memahami pelajaran secara baik. Tetapi jika hal itu diperkaya
dengan kegiatan melihat, menyentuh, merasakan, atau mengalami sendiri melalui
media, maka pemahaman pebelajar pasti akan lebih baik.
6.
Media memungkinkan proses pembelajaran
dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja.
Media
pembelajaran dapat dirancang sedemikian rupa sehingga pebelajar dapat melakukan
kegiatan pembelajaran secara lebih leluasa, kapanpun dan dimanapun, tanpa
tergantung pada keberadaan seorang pembelajar. Program-program pembelajaran
audio visual, termasuk program pembelajaran menggunakan komputer, memungkinkan
pebelajar dapat melakukan kegiatan belajar secara mandiri, tanpa terikat oleh
waktu dan tempat. Penggunaan media akan menyadarkan pebelajar betapa banyak
sumber-sumber belajar yang dapat mereka manfaatkan dalam belajar. Perlu kita
sadari bahwa alokasi waktu belajar di sekolah sangat terbatas, waktu terbanyak
justru dihabiskan pebelajar di luar lingkungan sekolah.
7.
Media dapat menumbuhkan sikap positif
pebelajar terhadap materi dan proses belajar.
Dengan
media, proses pembelajaran menjadi lebih menarik sehingga mendorong pebelajar
untuk mencintai ilmu pengetahuan dan gemar mencari sendiri sumber-sumber ilmu
pengetahuan. Kemampuan pebelajar untuk belajar dari berbagai sumber tersebut,
akan bisa menanamkan sikap kepada pebelajar untuk senantiasa berinisiatif
mencari berbagai sumber belajar yang diperlukan.
8.
Mengubah peran pembelajar ke arah yang
lebih positif dan produktif.
Dengan
memanfaatkan media secara baik, seorang pembelajar bukan lagi menjadi satu-satunya
sumber belajar bagi pebelajar. Seorang pembelajar tidak perlu menjelaskan
seluruh materi pelajaran, karena bisa berbagi peran dengan media. Dengan
demikian, pembelajar akan lebih banyak memiliki waktu untuk memberi perhatian
kepada aspek-aspek edukatif lainnya, seperti membantu kesulitan belajar
pebelajar, pembentukan kepribadian, memotivasi belajar, dan lain-lain.
9.
Media dapat membuat materi pelajaran
yang abstrak menjadi lebih konkrit
Mengidentifikasi
bentuk pasar dalam kegiatan ekonomi masyarakat
misalnya dapat dijelaskan melalui media gambar pasar dari yang
tradisional sampai pasar yang modern, demikian pula materi pelajaran yang rumit
dapat disajikan secara lebih sederhana dengan bantuan media. Misalnya materi
yang membahas tentang pusat pusat kerajaan Islam dinusantara dapat disampaikan
denganpenggunaan peta atau atlas, sehingga pebelajar dapat dengan mudah
memahami pembelajaran tersebut.
10.
Media juga dapat mengatasi kendala
keterbatasan ruang dan waktu
Sesuatu
yang terjadi di luar ruang kelas, bahkan di luar angkasa dapat dihadirkan di
dalam kelas melalui bantuan media. Demikian pula beberapa peristiwa yang telah
terjadi di masa lampau, dapat kita sajikan di depan pebelajar sewaktu-waktu.
Dengan media pula suatu peristiwa penting yang sedang terjadi di benua lain
dapat dihadirkan seketika di ruang kelas.
11.
Media dapat membantu mengatasi
keterbatasan indera manusia
Obyek-obyek
pelajaran yang terlalu kecil, terlalu besar atau terlalu jauh, dapat kita
pelajari melalui bantuan media. Demikian pula obyek berupa proses/kejadian yang
sangat cepat atau sangat lambat, dapat kita saksikan dengan jelas melalui
media, dengan cara memperlambat, atau mempercepat kejadian. Misalnya, proses
perkembangan janin dalam kandungan selama sembilan bulan, dapat dipercepat dan
disaksikan melalui media hanya dalam waktu beberapa menit saja (Yamin,
Martinis. 2006).
C.
Kesimpuan dan Saran
1. Kesimpulan
Sumber
belajar yang ada di seputar kita yang semua itu dapat kita manfaatkan untuk
keperluan belajar. Sekali lagi, pembelajar hanya merupakan salah satu dari
sekian banyak sumber belajar yang ada.
Media
merupakan salah satu komponen pembelajaran, Pemanfaatan media seharusnya
merupakan bagian yang harus mendapat perhatian pembelajar dalam setiap kegiatan
pembelajaran. Banyak jenis media yang bisa dipilih, dikembangkan dan
dimanfaatkan sesuai dengan kondisi waktu, biaya maupun tujuan pembelajaran yang
dikehendaki. Setiap jenis media memiliki karakteristik tertentu yang perlu kita
pahami, sehingga kita dapat memilih media yang sesuai dengan kebutuhan dan
kondisi yang ada di lapangan.
Melalui
berbagai metode dan media pembelajaran, pebelajar akan dapat banyak
berinteraksi secara aktif dengan memanfaatkan segala potensi yang dimiliki
pebelajar, tentu saja media yang digunakan dalam proses dan untuk mencapai
tujuan pendidikan. Pada hakekatnya media pendidikan juga merupakan media
komunikasi, karena proses pendidikan juga merupakan proses komunikasi. yang
secara khusus digunakan untuk mencapai tujuan belajar tertentu yang telah
dirumuskan secara khusus. Tidak semua media pendidikan adalah media
pembelajaran, tetapi setiap media pembelajaran pasti termasuk media pendidikan.
Media
harus dapat kita manfaatkan secara maksimal untuk membantu pebelajar mencapai
tujuan belajarnya. Alangkah minimnya pengalaman belajar peserta didik kita,
jika mereka hanya memperoleh informasi dari sumber-sumber yang terbatas. Masih
banyak sumber belajar lain yang dapat kita manfaatkan untuk membuat pebelajar
kita belajar. Peran penting pembelajar adalah mengupayakan agar setiap
pebelajarnya dapat berinteraksi dengan sebanyak mungkin sumber belajar.
Pemanfaatan media pada dasamya dimaksudkan untuk membantu agar kegiatan
pembelajaran lebih efektif mencapai tujuan dan efisien dalam hal tenaga, waktu
dan biaya.
2. Saran
Sebagai
seorang pembelajar, memang tidak cukup
hanya mengetahui media pembelajaran. Lebih penting dari itu, kita dituntut
untuk dapat mengaplikasikan pengetahuan itu dalam kegiatan pembelajaran demi
keberhasilan belajar peserta didik kita. Peran pembelajar hendaknya
menyediakan, menunjukkan, membimbing dan memotivasi pebelajar agar mereka dapat
berinteraksi dengan berbagai sumber belajar yang ada. Bukan hanya sumber
belajar yang berupa orang , melainkan juga sumber sumber belajar yang lain. Bukan
hanya sumber belajar yang sengaja dirancang untuk keperluan belajar, melainkan
juga sumber belajar yang telah tersedia. Semua sumber belajar itu dapat kita
temukan, kita pilih dan kita manfaatkan sebagai sumber belajar bagi pebelajar
kita agar tujuan pendidikan dapat tercapai sesuai dengan ketentuan yang
diharapkan.
Daftar
Pustaka
Arsyad, Azar. 2009. Media Pembelajaran. Jakarta:
GrafindoPersada
David,
Bern. 1991. Teaching with Media, a paper presented at Technology and Education
Conference in Athens, Greece.
Hamalik,
Oemar. 1990. Metode Belajar dan Kesulitan-Kesulitan Belajar. Bandung: Tarsito
Sudjana, Nana. 1989.
Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru.
Susilana, Rudi danCepiRiyana. 2009. Media
Pembelajaran. Jakarta: CV Wacana Prima
Wiratmojo,P dan
Sasonohardjo, 2002. Media Pembelajaran Bahan Ajar Diklat Kewidyaiswaraan
Berjenjang Tingkat Pertama, Lembaga Administrasi Negara.
http://digilib.uinsby.ac.id/2640/5/Bab%202.pdf (DilihatpadaMinggu 05 Mei 2019)
Komentar
Posting Komentar